DPRD Kabupaten Blora melakukan kunjungan kerja ke Dinas Koperasi Usaha Kecil Dan Menengah Kabupaten Kulon Progo pada Rabu, 22/5/2019 yang diterima langsung oleh Kepala Dinas Dra. Sri Harmintarti, MM didampingi Kabid permodalan Drs. Sri Wahyuniarto, MA bertempat di Aula Dinas. Rombongan yang hadir dari sejumlah 13 orang dipimpin langsung oleh wakil ketua DPRD Dra. Dwi Astuti Ningsih dan ketua komisi B Agus Untoro Waluyo.


Dalam sambutanya Dra. Dwi Astuti Ningsih menyampaikan bahwa tujuan dari kunjungan kerja ini adalah karena ketertarikan terhadap Inovasi yang dilakukan oleh Koperasi di Kulon Progo salah satunya adalah tentang Toko Milik Rakyat (ToMiRa) yang diinisiasi oleh Dinas Koperasi UKM Kabupaten Kulon Progo. Oleh karena ibu dwi berharap Blora dapat belajar terkait Tomira ini sehingga dapat diimplementasikan di Blora.


Dalam tanggapannya, Dra. Sri Harmintarti, MM menyampaikan ucapan selamat datang dan terima kasih yang sebesar-besarnya atas perhatian DPRD Kabupaten Blora terhadap Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, khususnya terhadap ToMiRa. “Kami merasa tersanjung, karena ini merupakan hal yang istimewa bagi kami, yang biasanya kunjungan kerja DPRD juga ke DPRD, namun kali ini DPRD Kabupaten Blora langsung melakukan kunjungan kerja ke Dinas Koperasi UKM Kabupaten Kulon Progo”, kata Dra. Sri Harmintarti, MM.


Selanjutnya Dra. Sri Harmintarti, MM menjelaskan tentang berdirinya ToMiRa. Bahwa maraknya Toko Modern berjejaring dan dekat pasar tradisional, memicu keresahan dan pro kontra. “Memperhatikan hal tersebut Pemerintah Daerah mengeluarkan aturan berupa Perda Nomor 11 Tahun 2011 Tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Pasar Tradisional Serta Penataan Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern. Toko modern yang berstatus jejaring dan waralaba serta berjarak kurang dari 1000 m dengan pasar tradisional harus dilakukan sanksi berupa penutupan”, jelas Dra. Sri Harmintarti, MM.


Dicari solusi alternatif yang tidak melanggar Perda tersebut dan diharapkan juga Alfamart maupun Indomart bisa mendukung dan berpihak pada ekonomi kerakyatan sehingga bisa bekerja sama dengan Koperasi dan UMKM di Kabupaten Kulon Progo dan Implementasi gerakan”Bela dan Beli Kulon Progo”. Selanjutnya dilaksanakan kajian terkait landasan dan payung hukum untuk melaksanakan kerjasama antara Koperasi UKM dengan perusahaan besar. Koperasi berkerjasama (Kemitraan) dengan Alfamart/ Indomaret sebagai salah satu suplier, dan kemitraan inilah awal lahirnya ToMiRa. Suplier selain Alfamart/Indomaret diutamakan produk lokal. ToMiRa diharuskan menyediakan Space minimal 20% dari total barang dagangan di ToMiRa untuk produk UMKM Lokal.


“Selain itu Model bisnis ToMiRa juga berbeda yaitu sudah tidak lagi monopoli didalam pengelolaan pabrikan artinya sudah ada pemasok lain, dimana sudah tidak ada lagi yang dinamakan pembayaran Royalty, selain itu penggunaan Sistem Operasional manajemen toko, manajemen rantai pasokan dan barang dagangan tidak ada biaya atau Manajemen fee. Selain dari pasokan barang pabrikan juga ada pasokan dan penjualan produk-produk lokal UMKM Kabupaten Kulon Progo dan status pemasok dari produk lokal setara dengan perusahaan pabrikan yaitu sama-sama sebagai pemasok. Dengan adanya sistem yang disejajarkan harapannya adalah terbentuknya produk-produk lokal yang bermutu dan layak jual di dalam pangsa pasar modern”, tambah Dra. Sri Harmintarti, MM.


Kemitraan ToMiRa selain dalam penyelenggaraanya memberikan kesempatan produk lokal UMKM untuk bisa sejajar penjualannya di dalam pasar toko modern. Tugas Koperasi juga memberikan fasilitasi berupa pelatihan dan juga bantuan alat serta pengemasan untuk UMKM lokal baik yang menjadi Anggota Koperasi maupun Non AnggotaKoperasi.


Tidak memungkiri bahwa Koperasi yang ada masih jauh dari yang diharapkan dan dengan momentum ini sekaligus dalam menyambut mega proyek yang ada di Kabupaten Kulon Progo (Bandara, Pelabuhan, Bedah Menoreh, Kota satelit, kawasan industri dll) perlu untuk memberikan ruang kepada Koperasi dan UMKM melalui kebijakan take over ToMiRa dan MoU, yang ternyata dalam perkembanganya Indomart juga berkerjasama dengan Koperasi melalui konsep modal penyertaan untuk ToMiRa di jarak lebih dari 1 Km dari pasar tradisional.


Dengan telah berdirinya ToMiRa berdampak bagi koperasi: ada Kebanggaan Koperasi memiliki Toko Modern sendiri, Memacu pertumbuhan berbagai macam produk baru yang berstandar (PIRT, HKI, Halal MUI, dsb), Anggota Koperasi ikut berpartisipasi aktif dalam mengembangkan produknya, Koperasi dapat memiliki toko modern tidak harus dengan modal besar, sebagai tempat berlatih untuk pengelolaan Toko Modern untuk masyarakat desa, meningkatnya jumlah peredaran uang di daerah, dan bisa lebih menjanjikan dalam hal peningkatan SHU.


Dampak bagi masyarakat: lebih meningkat kepercayaan akan produk lokal, mencintai, membela dan membeli produk lokal, dan menguatnya Idiologi Bela Beli Kulon Progo dan Bela Beli Indonesia ditengah tengah globalisasi MEA dan lain sebagainya. Produk lokal tersebut antara lain; Batik Gebleg Renteng, AirKu, Starprog, Beras produk Kulon Progo yang diproduksi oleh Gapoktan yang sekarang juga untuk menggantikan beras untuk keluarga miskin dengan Beras Daerah (Rasda).

Dra. Sri Harmintarti juga menjelaskan tentang Gula Semut, tentang gerakan Bedah Rumah, Kawasan Tanpa Rokok (KTR), dan juga masalah Buang Air Besar Sembarangan (BABS) dengan bantuan jamban keluarga, yang semuanya merupakan kepedulian dan perhatian dari Pemerintah Daerah Kabupaten Kulon Progo untuk mengurangi angka kemiskinan yang selama ini masih cukup tinggi. “ToMiRa di Kabupaten Kulon Progo saat ini ada sebanyak 16, dan kedepan akan didorong terus kemitraan ini sehingga ToMiRa di Kulon Progo semakin banyak, mampu meningkatkan perekonomian bagi pelaku UMKM, anggota Koperasi, maupun masyarakat luas”, Dra. Sri Harmintarti, MM mengakhiri penjelasannya. Selanjutnya diakhir acara dilakukan tukar cideramata.

DPRD Kabupaten Blora melakukan kunjungan kerja ke Dinas Koperasi Usaha Kecil Dan Menengah Kabupaten Kulon Progo pada Rabu, 22/5/2019 yang diterima langsung oleh Kepala Dinas Dra. Sri Harmintarti, MM didampingi Kabid permodalan Drs. Sri Wahyuniarto, MA bertempat di Aula Dinas. Rombongan yang hadir dari sejumlah 13 orang dipimpin langsung oleh wakil ketua DPRD Dra. Dwi Astuti Ningsih dan ketua komisi B Agus Untoro Waluyo.


Dalam sambutanya Dra. Dwi Astuti Ningsih menyampaikan bahwa tujuan dari kunjungan kerja ini adalah karena ketertarikan terhadap Inovasi yang dilakukan oleh Koperasi di Kulon Progo salah satunya adalah tentang Toko Milik Rakyat (ToMiRa) yang diinisiasi oleh Dinas Koperasi UKM Kabupaten Kulon Progo. Oleh karena ibu dwi berharap Blora dapat belajar terkait Tomira ini sehingga dapat diimplementasikan di Blora.


Dalam tanggapannya, Dra. Sri Harmintarti, MM menyampaikan ucapan selamat datang dan terima kasih yang sebesar-besarnya atas perhatian DPRD Kabupaten Blora terhadap Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, khususnya terhadap ToMiRa. “Kami merasa tersanjung, karena ini merupakan hal yang istimewa bagi kami, yang biasanya kunjungan kerja DPRD juga ke DPRD, namun kali ini DPRD Kabupaten Blora langsung melakukan kunjungan kerja ke Dinas Koperasi UKM Kabupaten Kulon Progo”, kata Dra. Sri Harmintarti, MM.


Selanjutnya Dra. Sri Harmintarti, MM menjelaskan tentang berdirinya ToMiRa. Bahwa maraknya Toko Modern berjejaring dan dekat pasar tradisional, memicu keresahan dan pro kontra. “Memperhatikan hal tersebut Pemerintah Daerah mengeluarkan aturan berupa Perda Nomor 11 Tahun 2011 Tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Pasar Tradisional Serta Penataan Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern. Toko modern yang berstatus jejaring dan waralaba serta berjarak kurang dari 1000 m dengan pasar tradisional harus dilakukan sanksi berupa penutupan”, jelas Dra. Sri Harmintarti, MM.


Dicari solusi alternatif yang tidak melanggar Perda tersebut dan diharapkan juga Alfamart maupun Indomart bisa mendukung dan berpihak pada ekonomi kerakyatan sehingga bisa bekerja sama dengan Koperasi dan UMKM di Kabupaten Kulon Progo dan Implementasi gerakan”Bela dan Beli Kulon Progo”. Selanjutnya dilaksanakan kajian terkait landasan dan payung hukum untuk melaksanakan kerjasama antara Koperasi UKM dengan perusahaan besar. Koperasi berkerjasama (Kemitraan) dengan Alfamart/ Indomaret sebagai salah satu suplier, dan kemitraan inilah awal lahirnya ToMiRa. Suplier selain Alfamart/Indomaret diutamakan produk lokal. ToMiRa diharuskan menyediakan Space minimal 20% dari total barang dagangan di ToMiRa untuk produk UMKM Lokal.


“Selain itu Model bisnis ToMiRa juga berbeda yaitu sudah tidak lagi monopoli didalam pengelolaan pabrikan artinya sudah ada pemasok lain, dimana sudah tidak ada lagi yang dinamakan pembayaran Royalty, selain itu penggunaan Sistem Operasional manajemen toko, manajemen rantai pasokan dan barang dagangan tidak ada biaya atau Manajemen fee. Selain dari pasokan barang pabrikan juga ada pasokan dan penjualan produk-produk lokal UMKM Kabupaten Kulon Progo dan status pemasok dari produk lokal setara dengan perusahaan pabrikan yaitu sama-sama sebagai pemasok. Dengan adanya sistem yang disejajarkan harapannya adalah terbentuknya produk-produk lokal yang bermutu dan layak jual di dalam pangsa pasar modern”, tambah Dra. Sri Harmintarti, MM.


Kemitraan ToMiRa selain dalam penyelenggaraanya memberikan kesempatan produk lokal UMKM untuk bisa sejajar penjualannya di dalam pasar toko modern. Tugas Koperasi juga memberikan fasilitasi berupa pelatihan dan juga bantuan alat serta pengemasan untuk UMKM lokal baik yang menjadi Anggota Koperasi maupun Non AnggotaKoperasi.


Tidak memungkiri bahwa Koperasi yang ada masih jauh dari yang diharapkan dan dengan momentum ini sekaligus dalam menyambut mega proyek yang ada di Kabupaten Kulon Progo (Bandara, Pelabuhan, Bedah Menoreh, Kota satelit, kawasan industri dll) perlu untuk memberikan ruang kepada Koperasi dan UMKM melalui kebijakan take over ToMiRa dan MoU, yang ternyata dalam perkembanganya Indomart juga berkerjasama dengan Koperasi melalui konsep modal penyertaan untuk ToMiRa di jarak lebih dari 1 Km dari pasar tradisional.


Dengan telah berdirinya ToMiRa berdampak bagi koperasi: ada Kebanggaan Koperasi memiliki Toko Modern sendiri, Memacu pertumbuhan berbagai macam produk baru yang berstandar (PIRT, HKI, Halal MUI, dsb), Anggota Koperasi ikut berpartisipasi aktif dalam mengembangkan produknya, Koperasi dapat memiliki toko modern tidak harus dengan modal besar, sebagai tempat berlatih untuk pengelolaan Toko Modern untuk masyarakat desa, meningkatnya jumlah peredaran uang di daerah, dan bisa lebih menjanjikan dalam hal peningkatan SHU.


Dampak bagi masyarakat: lebih meningkat kepercayaan akan produk lokal, mencintai, membela dan membeli produk lokal, dan menguatnya Idiologi Bela Beli Kulon Progo dan Bela Beli Indonesia ditengah tengah globalisasi MEA dan lain sebagainya. Produk lokal tersebut antara lain; Batik Gebleg Renteng, AirKu, Starprog, Beras produk Kulon Progo yang diproduksi oleh Gapoktan yang sekarang juga untuk menggantikan beras untuk keluarga miskin dengan Beras Daerah (Rasda).

Dra. Sri Harmintarti juga menjelaskan tentang Gula Semut, tentang gerakan Bedah Rumah, Kawasan Tanpa Rokok (KTR), dan juga masalah Buang Air Besar Sembarangan (BABS) dengan bantuan jamban keluarga, yang semuanya merupakan kepedulian dan perhatian dari Pemerintah Daerah Kabupaten Kulon Progo untuk mengurangi angka kemiskinan yang selama ini masih cukup tinggi. “ToMiRa di Kabupaten Kulon Progo saat ini ada sebanyak 16, dan kedepan akan didorong terus kemitraan ini sehingga ToMiRa di Kulon Progo semakin banyak, mampu meningkatkan perekonomian bagi pelaku UMKM, anggota Koperasi, maupun masyarakat luas”, Dra. Sri Harmintarti, MM mengakhiri penjelasannya. Selanjutnya diakhir acara dilakukan tukar cideramata.

DPRD Kabupaten Blora melakukan kunjungan kerja ke Dinas Koperasi Usaha Kecil Dan Menengah Kabupaten Kulon Progo pada Rabu, 22/5/2019 yang diterima langsung oleh Kepala Dinas Dra. Sri Harmintarti, MM didampingi Kabid permodalan Drs. Sri Wahyuniarto, MA bertempat di Aula Dinas. Rombongan yang hadir dari sejumlah 13 orang dipimpin langsung oleh wakil ketua DPRD Dra. Dwi Astuti Ningsih dan ketua komisi B Agus Untoro Waluyo.


Dalam sambutanya Dra. Dwi Astuti Ningsih menyampaikan bahwa tujuan dari kunjungan kerja ini adalah karena ketertarikan terhadap Inovasi yang dilakukan oleh Koperasi di Kulon Progo salah satunya adalah tentang Toko Milik Rakyat (ToMiRa) yang diinisiasi oleh Dinas Koperasi UKM Kabupaten Kulon Progo. Oleh karena ibu dwi berharap Blora dapat belajar terkait Tomira ini sehingga dapat diimplementasikan di Blora.


Dalam tanggapannya, Dra. Sri Harmintarti, MM menyampaikan ucapan selamat datang dan terima kasih yang sebesar-besarnya atas perhatian DPRD Kabupaten Blora terhadap Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, khususnya terhadap ToMiRa. “Kami merasa tersanjung, karena ini merupakan hal yang istimewa bagi kami, yang biasanya kunjungan kerja DPRD juga ke DPRD, namun kali ini DPRD Kabupaten Blora langsung melakukan kunjungan kerja ke Dinas Koperasi UKM Kabupaten Kulon Progo”, kata Dra. Sri Harmintarti, MM.


Selanjutnya Dra. Sri Harmintarti, MM menjelaskan tentang berdirinya ToMiRa. Bahwa maraknya Toko Modern berjejaring dan dekat pasar tradisional, memicu keresahan dan pro kontra. “Memperhatikan hal tersebut Pemerintah Daerah mengeluarkan aturan berupa Perda Nomor 11 Tahun 2011 Tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Pasar Tradisional Serta Penataan Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern. Toko modern yang berstatus jejaring dan waralaba serta berjarak kurang dari 1000 m dengan pasar tradisional harus dilakukan sanksi berupa penutupan”, jelas Dra. Sri Harmintarti, MM.


Dicari solusi alternatif yang tidak melanggar Perda tersebut dan diharapkan juga Alfamart maupun Indomart bisa mendukung dan berpihak pada ekonomi kerakyatan sehingga bisa bekerja sama dengan Koperasi dan UMKM di Kabupaten Kulon Progo dan Implementasi gerakan”Bela dan Beli Kulon Progo”. Selanjutnya dilaksanakan kajian terkait landasan dan payung hukum untuk melaksanakan kerjasama antara Koperasi UKM dengan perusahaan besar. Koperasi berkerjasama (Kemitraan) dengan Alfamart/ Indomaret sebagai salah satu suplier, dan kemitraan inilah awal lahirnya ToMiRa. Suplier selain Alfamart/Indomaret diutamakan produk lokal. ToMiRa diharuskan menyediakan Space minimal 20% dari total barang dagangan di ToMiRa untuk produk UMKM Lokal.


“Selain itu Model bisnis ToMiRa juga berbeda yaitu sudah tidak lagi monopoli didalam pengelolaan pabrikan artinya sudah ada pemasok lain, dimana sudah tidak ada lagi yang dinamakan pembayaran Royalty, selain itu penggunaan Sistem Operasional manajemen toko, manajemen rantai pasokan dan barang dagangan tidak ada biaya atau Manajemen fee. Selain dari pasokan barang pabrikan juga ada pasokan dan penjualan produk-produk lokal UMKM Kabupaten Kulon Progo dan status pemasok dari produk lokal setara dengan perusahaan pabrikan yaitu sama-sama sebagai pemasok. Dengan adanya sistem yang disejajarkan harapannya adalah terbentuknya produk-produk lokal yang bermutu dan layak jual di dalam pangsa pasar modern”, tambah Dra. Sri Harmintarti, MM.


Kemitraan ToMiRa selain dalam penyelenggaraanya memberikan kesempatan produk lokal UMKM untuk bisa sejajar penjualannya di dalam pasar toko modern. Tugas Koperasi juga memberikan fasilitasi berupa pelatihan dan juga bantuan alat serta pengemasan untuk UMKM lokal baik yang menjadi Anggota Koperasi maupun Non AnggotaKoperasi.


Tidak memungkiri bahwa Koperasi yang ada masih jauh dari yang diharapkan dan dengan momentum ini sekaligus dalam menyambut mega proyek yang ada di Kabupaten Kulon Progo (Bandara, Pelabuhan, Bedah Menoreh, Kota satelit, kawasan industri dll) perlu untuk memberikan ruang kepada Koperasi dan UMKM melalui kebijakan take over ToMiRa dan MoU, yang ternyata dalam perkembanganya Indomart juga berkerjasama dengan Koperasi melalui konsep modal penyertaan untuk ToMiRa di jarak lebih dari 1 Km dari pasar tradisional.


Dengan telah berdirinya ToMiRa berdampak bagi koperasi: ada Kebanggaan Koperasi memiliki Toko Modern sendiri, Memacu pertumbuhan berbagai macam produk baru yang berstandar (PIRT, HKI, Halal MUI, dsb), Anggota Koperasi ikut berpartisipasi aktif dalam mengembangkan produknya, Koperasi dapat memiliki toko modern tidak harus dengan modal besar, sebagai tempat berlatih untuk pengelolaan Toko Modern untuk masyarakat desa, meningkatnya jumlah peredaran uang di daerah, dan bisa lebih menjanjikan dalam hal peningkatan SHU.


Dampak bagi masyarakat: lebih meningkat kepercayaan akan produk lokal, mencintai, membela dan membeli produk lokal, dan menguatnya Idiologi Bela Beli Kulon Progo dan Bela Beli Indonesia ditengah tengah globalisasi MEA dan lain sebagainya. Produk lokal tersebut antara lain; Batik Gebleg Renteng, AirKu, Starprog, Beras produk Kulon Progo yang diproduksi oleh Gapoktan yang sekarang juga untuk menggantikan beras untuk keluarga miskin dengan Beras Daerah (Rasda).

Dra. Sri Harmintarti juga menjelaskan tentang Gula Semut, tentang gerakan Bedah Rumah, Kawasan Tanpa Rokok (KTR), dan juga masalah Buang Air Besar Sembarangan (BABS) dengan bantuan jamban keluarga, yang semuanya merupakan kepedulian dan perhatian dari Pemerintah Daerah Kabupaten Kulon Progo untuk mengurangi angka kemiskinan yang selama ini masih cukup tinggi. “ToMiRa di Kabupaten Kulon Progo saat ini ada sebanyak 16, dan kedepan akan didorong terus kemitraan ini sehingga ToMiRa di Kulon Progo semakin banyak, mampu meningkatkan perekonomian bagi pelaku UMKM, anggota Koperasi, maupun masyarakat luas”, Dra. Sri Harmintarti, MM mengakhiri penjelasannya. Selanjutnya diakhir acara dilakukan tukar cideramata.

Dra. Sri Harmintarti juga menjelaskan tentang Gula Semut, tentang gerakan Bedah Rumah, Kawasan Tanpa Rokok (KTR), dan juga masalah Buang Air Besar Sembarangan (BABS) dengan bantuan jamban keluarga, yang semuanya merupakan kepedulian dan perhatian dari Pemerintah Daerah Kabupaten Kulon Progo untuk mengurangi angka kemiskinan yang selama ini masih cukup tinggi. “ToMiRa di Kabupaten Kulon Progo saat ini ada sebanyak 16, dan kedepan akan didorong terus kemitraan ini sehingga ToMiRa di Kulon Progo semakin banyak, mampu meningkatkan perekonomian bagi pelaku UMKM, anggota Koperasi, maupun masyarakat luas”, Dra. Sri Harmintarti, MM mengakhiri penjelasannya. Selanjutnya diakhir acara dilakukan tukar cideramata.

Dra. Sri Harmintarti juga menjelaskan tentang Gula Semut, tentang gerakan Bedah Rumah, Kawasan Tanpa Rokok (KTR), dan juga masalah Buang Air Besar Sembarangan (BABS) dengan bantuan jamban keluarga, yang semuanya merupakan kepedulian dan perhatian dari Pemerintah Daerah Kabupaten Kulon Progo untuk mengurangi angka kemiskinan yang selama ini masih cukup tinggi. “ToMiRa di Kabupaten Kulon Progo saat ini ada sebanyak 16, dan kedepan akan didorong terus kemitraan ini sehingga ToMiRa di Kulon Progo semakin banyak, mampu meningkatkan perekonomian bagi pelaku UMKM, anggota Koperasi, maupun masyarakat luas”, Dra. Sri Harmintarti, MM mengakhiri penjelasannya. Selanjutnya diakhir acara dilakukan tukar cideramata.

sumber: web kulon progo


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *